Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

DAERAH · 27 Nov 2023 15:31 WIB ·

Ketua JASA Bireuen : Terkait Bendera Bulan Bintang, Provokator Bangsa Aceh Biadab


 Ketua JASA Bireuen, Tgk Mauliadi Sulaiman. Perbesar

Ketua JASA Bireuen, Tgk Mauliadi Sulaiman.

RAKYATACEH | BIREUEN – Menjelang peringatan milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bertepatan dengan 4 Desember 2023 mendatang, Ketua Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Kabupaten Bireuen, Tgk Mauliadi, mendapat teror atau kutukan dari orang tak dikenal (OTK) di lingkungan kabupaten setempat.

Kutukan dari OTK yang dianggap sebagai bentuk provokasi di kalangan masyarakat itu, terpampang di sejumlah spanduk dengan tulisan “Rakyat Aceh Mengutuk Keras Jaringan Aneuk Syuhada Yang Telah Memprovokasi Rakyat”, dan juga dibeberapa spanduk lainnya ditulis “Demi Untuk Kepentingan Pribadi, Tgk Mauliadi Sulaiman (Ketua JASA) Tega Memanfaatkan Aneuk Syuhada” sembari ditulis juga di fotonya “Pengkhianat”.

Di beberapa lokasi, juga muncul spanduk dari provokator dengan tulisan, “Bek Neupeubeudoh Arwah Syuhada yang Ka Teunang Untuk Kepentingan Pribadi Droe”. Selain itu, ada juga spanduk yang ditulis dengan kalimat “Jaringan Aneuk Syuhada Boneka KPA”, dan masih banyak spanduk provokasi lainnya terkait dengan JASA Bireuen.

Menyikapi spanduk dari provokator tersebut, Tgk Mauliadi bersama pengurus JASA Bireuen merasa makin semangat untuk memperjuangkan hak-hak bangsa Aceh yang tertuang dalam MoU Helsingki.

“Bangsa Aceh jangan diprovokasi dengan spanduk. Dulunya, ayah kami berperang pakai senjata dan sekarang kami semakin kuat tidak bisa diprovokasi. Jadi manusia jangan seperti binatang, setelah berbuat tidak mau tanggung jawab. Dasar biadab,” murka Ketua JASA Bireuen melalui media ini, Senin (27/11).

Tgk Mauliadi juga menyayangkan bahwa sejumlah spanduk pelecehan terhadap dirinya dan JASA Bireuen berhasil dipasang oleh provokator dekat dengan kantor polsek dan koramil.

Ia sangan menyayangkan spanduk provokasi bisa dipasang dengan bebas di beberapa lokasi strategis, bahkan dekat dengan kantor polsek dan koramil.

“Berarti kami JASA Bireuen dapat menyimpulkan bahwa, keamanan di tengah masyarakat sangat lemah untuk saat ini. Jadi, kami minta kepada kapolres dan Dandim 0111/Bireuen, tolong perketat keamanan di setiap polsek dan koramil, jangan dibiarkan begitu saja. Apalagi menjelang pemilihan umum (pemilu), TNI-Polri Polres harus bersinergi dalam menjaga keamanan,” tegas Tgk Mauliadi.

Ia juga meminta semua pihak untuk sama-sama menjaga perdamaian. Jangan demi kepentingan tugas atau kepentingan pribadi, menjadi provokator di kalangan masyarakat.

“Semua kita cari makan, tapi jangan sebiadab itu juga pekerjaannya. Jangan sampai cari uang untuk istri dan anak di rumah, rela menjadi provokator untuk melecehkan orang lain,” sesal Ketua JASA Bireuen.

Ia juga menegaskan, bangsa Aceh berhak mengibarkan bendera Bulan Bintang kapanpun dan dimanapun, karena dalam sejarah perjuangan Aceh Merdeka, mulai tahun 1976 hingga 2005 silam, semua bangsa Aceh ikut berjuang dalam menuntut keadilan dari Pemerintah Pusat Republik Indonesia (RI).

“Bangsa Aceh punya hak mengibarkan bendera Bulan Bintang. Bendera itu lahir dari darah perjuangan, tak boleh dilupakan dan harus dikibarkan di Aceh,” tegas anak kandung almarhum Tgk Sulaiman Umar, selaku Panglima Sagoe Chiek Muda Madhasan D IV itu.

Ia juga mengatakan, dasar hukum bangsa Aceh punya hak untuk mengibarkan bendera Bulan Bintang, juga diatur dalam Undang Undang Pemerintah Aceh (UUPA), sehingga menurutnya, tidak ada alasan dan ketentuan hukum lainnya yang melarang untuk dinaikkan.

“Jelas tertera dalam undang-undang Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh yang tertera dalam poin 1.1.5 bahwa, Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah termasuk bendera, lambang, dan himne. Jadi, kenapa masih ada larangan untuk mengibarkan bendera Bulan Bintang. Apakah UUPA tidak bisa dijadikan dasar hukum bagi bangsa Aceh!,” pungkas Tgk Mauliadi. (akh)

Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Sri Wahyuni Guru MAN 6 Aceh Utara Menulis Buku Cerita Anak Dua Bahasa

20 February 2024 - 17:58 WIB

Pemko Lhokseumawe Resmikan Pusat Kuliner di Muara Satu

20 February 2024 - 17:34 WIB

Pj Bupati Pidie Resmi Buka Program TMMD Reguler Ke-119 Kodim 0102/Pidie di Tangse

20 February 2024 - 14:26 WIB

Parah! Tumpukan Sampah Berserakan di Sejumlah Titik di Kota Lhokseumawe

19 February 2024 - 18:21 WIB

Abu Yusri Wally Isi Ceramah Isra Mi’raj di Guhang

19 February 2024 - 11:36 WIB

IAIN Langsa Resmi Buka Prodi Profesi Guru (PPG) Keagamaan

17 February 2024 - 18:21 WIB

Trending di NANGGROE TIMUR