Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

NANGGROE BARAT · 21 May 2024 14:15 WIB ·

Land Clearing Perkebunan Sawit Cemarkan Sungai Singgersing


 Kondisi sungai Singgersing Subulussalam, Aceh tercemar kayu (istimewa) Perbesar

Kondisi sungai Singgersing Subulussalam, Aceh tercemar kayu (istimewa)

RAKYATACEH | SUBULUSSALAM  – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menerima laporan tentang tercemarnya aliran sungai dengan potongan kayu yang hanyut dari hulu dan air keruh bercampur dengan lumpur di sungai Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Subulussalam.

Diduga pencemaran ini terjadi akibat ada aktivitas land clearing (proses pembersihan hingga penyiapan lahan untuk digunakan kembali dalam beberapa aktivitas) perusahaan sawit.

“Informasi yang kami peroleh, ini aktivitas dan kejadiannya baru dalam dua bulan terakhir akibat adanya land clearing perusahaan sawit yang sedang membuka lahan di sana,” kata Direktur WALHI Aceh, Ahmad Salihin, Senin (20/5).

Dijelaskan, selain mengancam keselamatan warga bermukim di bantaran sungai, aktivitas land clearing juga berdampak kepada sejumlah nelayan. Mereka tidak dapat lagi memasang bubu atau jaring untuk menangkap ikan, karena adanya bongkahan kayu yang hanyut dari hulu.

“Tak hanya itu, dampak lain yang dirasakan warga selama proses land clearing ini air sungai sering meluap yang membuat rumah terendam air. Termasuk banyak lumpur yang menimbun kebun warga yang menyebabkan gagal panen,” jelasnya.

Selanjutnya, berdasarkan pantauan tim Geographic Information System (GIS) WALHI Aceh menemukan ada bukaan lahan di sekitar itu rentang waktu Januari – April 2024. Luasan kehilangan tutupan hutan mencapai 1.767,35 hektar, sekitar 26 hektarnya masuk dalam Hutan Lindung (HL). Sedangkan sebelumnya, pada 2023 lalu kondisi tutupan hutan masih bagus.

“Temuan data oleh Tim GIS ini sudah sangat jelas, tercemar sungai Singgersing itu selama proses land clearing perkebunan sawit yang ada di sana, karena sebelumnya tidak ada temuan seperti itu di sana,” tegasnya.

Sebelumnya, perangkat gampong Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat sudah pernah menyurati dugaan pencemaran sungai tersebut kepada Pj Walikota dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLKH) Subulussalam. Laporan tersebut disampaikan melalui surat resmi pada tanggal 8 Mei 2024 lalu.
“Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala Desa Singgersing, Kepala Mukim Batu-Batu dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya,” ujarnya.

Kemudian, surat itu juga ditembuskan kepada Camat Sultan Daulat, KPH VI Kota Subulussalam, Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK), Kejaksaaan Negeri (Kejari), Kapolres, Dinas Perkebunan Kota Subulussalam, termasuk ditembuskan ke BKSDA Aceh.

“Sepengetahuan kami hingga sekarang belum ada tindak lanjut penyelesaiannya, pencemaran sungai tersebut masih saja terjadi,” tegasnya.

Ahmad Salihin juga menjelaskan, dampak land clearing perusahaan sawit di Kecamatan Sultan Daulat, tidak hanya berpengaruh pada kualitas sungai, tetapi juga mengancam areal objek wisata Silangit-Langit.
Di sisi lain laju Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam menempati daerah paling tinggi kehilangan tutupan hutan dibandingkan kecamatan selama 2015-2022 lalu. Kurun waktu 8 tahun terakhir ada 3.763 hektar lebih hutan gundul. Artinya 47 persen dari total kehilangan tutupan hutan di Subulussalam seluas 7.046 hektar berasal dari Kecamatan Sultan Daulat.

Lalu Kecamatan Simpang Kiri kehilangan tutupan hutan selama 8 tahun terakhir seluas 1.174 hektar, Rundeng 859 hektar, Penanggalan 649 hektar dan Longkib seluas 601 hektar. “Ini data belum dihitung kerusakan pada 2023 lalu, diperkirakan kalau dimasukkan hingga April 2024 ini luasannya lebih besar,” katanya.

WALHI Aceh menilai, ini sangat mendesak untuk segera diatasi sebelum terlambat, karena dapat berdampak kerusakan terhadap berbagai ekosistem yang ada di sana. Selain itu juga berpotensi terjadi konflik sosial antara warga dengan perusahaan sawit yang sedang melakukan pembersihan lahan. (mag-99/min).

 

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Haji Uma dan PPAM serta BP2MI Kembali Fasilitasi Pemulangan Jenazah Warga Aceh dari Malaysia

18 June 2024 - 17:06 WIB

IKA Unimal Segera Gelar Mubes 

16 June 2024 - 14:17 WIB

Muhammad Nazar Sosok yang Ideal Memimpin Aceh 

15 June 2024 - 20:45 WIB

Kapendam IM Sampaikan Perkembangan Penanganan Kasus Meninggalnya Warga Aceh Timur

15 June 2024 - 19:45 WIB

Banda Aceh Masuk 3 Besar TPID Kabupaten/Kota Berkinerja Terbaik

14 June 2024 - 22:20 WIB

Dirreskrimum Polda Aceh: Perlu Kerja Sama Semua Pihak dalam Memberantas Judi Online

14 June 2024 - 22:14 WIB

Trending di UTAMA