Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

NANGGROE BARAT · 10 Jun 2024 19:02 WIB ·

“Beo Simeulue” Terancam Hilang dari Muka Bumi


 TERANCAM PUNAH: Endemik burung beo Simeulue atau nama latinnya Gracula Religiosa Miotera dan dalam bahasa lokalnya Manok-manok Tiung atau Tiong, yang saat ini terancam punah. Senin, 10 Juni 2024. (Ahmadi) Perbesar

TERANCAM PUNAH: Endemik burung beo Simeulue atau nama latinnya Gracula Religiosa Miotera dan dalam bahasa lokalnya Manok-manok Tiung atau Tiong, yang saat ini terancam punah. Senin, 10 Juni 2024. (Ahmadi)

RAKYAT ACEH | SINABANG – Endemik satwa  liar yang dilindungi jenis Burung Beo Simeulue, dengan nama latinnya Gracula Religiosa Miotera dan dalam bahasa lokalnya disebut Manok-manok Tiung atau Tiong, kini menyandang status dengan level sangat kritis atau diambang kepunahan.

Dengan status level kritis dan diambang kepunahan tersebut, sehinggqa patut di khawatirkan keselamatan sisa-sisa endemik burung Beo Simeulue, yang masih hidup tidak tenang di alam liar pulau Simeulue, di sebabkan menjadi target buruan dan diincar oleh pemburu.

Burung Beo Simeulue memiliki nilai ekonomis yang tinggi dipasar gelap karena mampu menghasilkan “cuan”, dan selanjutnya satwa dilindungi itu untuk sementara dipelihara pemburu, dan kemudian diseludupkan ke luar pulau, dengan alasan hanya untuk “ole-ole” spesial kepada seseorang.

Burung Beo salah satu endemik satwa burung yang dilindungi itu, hanya ditemukan hidup berkembang biak di alam pulau Simeulue dan dikenal pintar karena cepat menirukan suara manusia dan kini nasibnya diambang kepunahan, bahkan dikhawatirkan bakal hilang dari muka bumi.

Dengan level status terancam punah burung Beo Simeulue itu, disampaikan Ketua Yayasan Ecosystem Impact, Irda Kusuma ST, yang memiliki kewenangan ruang lingkup tugas menjaga lanskap liar Bangkaru dan Kepulauan Simeulue, kepada Harian Rakyat Aceh, Senin 10 Juni 2024.

“Untuk status Beo Simeulue sudah terancam punah, dimana saat ini sangat sulit ditemukan di hutan Simeulue umumnya. Ini sangat mengkhawatirkan dan bila tidak segera dilakukan tindakan serius, maka tidak tertutup kemungkinan nantinya burung beo Simeulue hanya tinggal nama, atau kasarnya bakal punah dari muka bumi,” kata Irda Kusuma.

Irda Kusuma tidak menapik dan menambahkan, bahwa hingga saat ini masih berlangsung perburuan burunb Beo, disebabkan masih tingginya minat atas penguasaan beo Simeulue baik di dalam maupun luar daerah, jiga dipicu faktor ekonomi, kurangnya pengawasan oleh pihak terkait dan masih kurangnya tingkat kesadaran masyarakat tentang penting menjaga ekosistem alam.

Ketua Ketua Yayasan Ecosystem Impact, kembali merincikan brdasarkan riwayat selain aturan yang berlaku, baik itu ditingkat internasional dan nasional untuk perlindungan dan pelestarian Beo Simeulue, juga pihak Pemda Simeulue telah membuat aturan sebagai turunan dari aturan yang ada.

Turunan aturan itu berupa qanun Bupati Simeulue nomor 10 Tahun 2005 tentang perlindungan dan pelestarian satwa burung dalam kabupaten Simeulue, dan aturan itu dinilai sudah cukup baik, hanya saja perlu di instensifkan secara rutin untuk sosialisasi dan edukasi baik ditingkat Kabupaten, Kecamatan hingga tingkat desa serta harmoisasi semua pihak terkait dalam pengawasan dan penjagaan serta penegakan hukum atas aturan tersebut.

“Endemik Burung Beo Simeulue, saat ini sangat sulit ditemukan di hutan Simeulue umumnya, bahkan di tempat yang dulu sering terdengar kicauan burung tersebut dapat kita dengar, ketika kita pergi ke kebun yang berdekatan dengan hutan sudah tidak terdengar lagi. Ini disebabkan masih tingginya minat atas penguasaan burung Beo Simeulue, baik itu dalam daerah maupun luar daerah, sehingga nyaris 24 jam satwa dilindungi ini jadi incaran”, imbuhnya.

Irda Kusuma ST, merincikan secara spesifik ciri khas endemik burung Beo Simeulue, yakni dengan ukuran tubuh sekitar 32 cm dan berwarna hitam mengkilap, serta memiliki Pial (Glambir) warna kuninb khas di bawah kedua bola matanya serta glambilr lainnya, yang  memanjang dari mata kearah belakang melingkari leher, selanjutnya ciri khas lainnya, glambir yang melingkari leher itu juga melebar membentuk dua glambir dileher belakang.

Kemudian pada sayap yang memiliki warna hitam mengkilap itu,  juga ditemukan ada bercak atau bintik putih pada buluh primer serta ciri lainnya burung beo Simeulue itu, juga pada iris bola mata berwarna coklat, serta terlihat sangat kokoh pada paruh yang sedikit melengkung dan  berwarna orange dan merah, termasuk kedua kakinya berwarna kuning mengkilap.

Sulit ditemukan endemik Burung Beo Simeulue itu, juga dibenarkan Camat Salang, Muhammad Kausar, yang dikonfirmasi Harian Rakyat Aceh, Senin 10 Juni 2024. “Jangankan terlihat, suaranya saja sulit kita dengar. Artinya burung beo Simeulue telah sangat langka, atau mungkin katakanlah masih ada yang hidup, tapi mereka berada dihutan belantara dengan puluhan kilometer jauhnya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Camat Simeulue Barat, Daswan kepada Harian Rakyat Aceh. “Memang sudah sangat sulit kita temukan, sebab warga saya bilang, bahwa burung beo Simeulue itu semakin jauh kedalam hutan tempat tinggalnya, untuk menemukannya saja perlu waktu setengah hari jalan kaki masuk kedalam hutan, itupun kalau beruntung dapat dilihat dan didengar kicauannya,” katanya.

Semakin langkanya endemik burung burung beo Simeulue itu juga diperkuat Kepala Bidang (Kabid) Penataan, Penaatan PPLH Serta Pengelolaan Taman Hutan Raya, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Simeulue, Edi Sarbihan yang ditemui terpisah Harian Rakyat Aceh, Senin 10 Juni 2024.

Edi Sarbihan menyebutkan untuk endemik burung Beo Simeulue, tidak ditemukan areal paling dilindungi oleh Pemerintah yakni kawasan Konsevasi Taman Hutan Raya (Tahura) dengan areal seluas 919,05 hektar yang berada dalam wilayah Kecamatan Simeulue Timur dan Kecamatan Teupah Selatan.

“Dari data spesies endemik burung yang hidup berkembang biak yang ada di kawasan Tahura, tidak ditemukan endemik burung jenis beo Simeulue. Kita juga tidak tau kenapa tidak ada, atau sebelumnya mungkin satwa dilindungi itu merasa terusik dan trauma, lalu pindah kelokasi yang tidak terjamah oleh aktivitas manusia, namun kita berharap aset yang berharga itu, jangan nanti tinggal nama,” katanya. (ahi/hra)

Artikel ini telah dibaca 2,160 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Alumni MAN 1 Aceh Barat Gelar Halal bi Halal dan Pelantikan Pengurus

20 June 2024 - 19:34 WIB

Sehari, Tiga Kali Gempa Bumi Guncang Simeulue

19 June 2024 - 21:10 WIB

Sah, KIP Tetapkan 20 Nama Yang Akan Duduk di Kursi Wakil Rakyat Simeulue

14 June 2024 - 18:30 WIB

Satlantas Polres Abdya Tangani 48 Kasus Laka Lantas

14 June 2024 - 08:18 WIB

Mopen tabrak truk muatan kayu di Pidie, warga Aceh Barat meninggal dunia

13 June 2024 - 15:00 WIB

Dewan Simeulue, Usulkan Tiga Nama Pengganti Pj Bupati Ahmadlyah

12 June 2024 - 11:00 WIB

Trending di NANGGROE BARAT