Menu

Mode Gelap
Eksebisi Panahan Berkuda di Aceh Tamiang Memukau Ribuan Penonton Oki Setiana Dewi Bangga Khabib Nurmagomedov Akan Datang ke Indonesia Stop Politisasi Investasi: Masyarakat Aceh Barat Masih Berharap dengan MIFA Raih Juara Satu Tingkat Provinsi, Tim Kihajar STEM SMKN 1 Tapaktuan Wakili Aceh ke Tingkat Nasional Manajemen MIFA Melawan, Ribuan Karyawan Mulai Panik

KHAZANAH · 9 Aug 2024 12:29 WIB ·

Aceh dan Islam di PON XXI 2024: Peluang dan Tantangan


 Tgk Mustafa Husen Woyla Perbesar

Tgk Mustafa Husen Woyla

Tgk Mustafa Husen Woyla, Ketua Umum Ikatan Santri dan Alumni Dayah (ISAD), menyoroti peluang besar yang dimiliki Aceh dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024.

Acara ini bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga tentang mengenalkan kekayaan budaya dan nilai-nilai Islam di Aceh kepada masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, ada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan dan dimanfaatkan dengan baik dalam penyelenggaraan PON XXI ini.

Salah satu isu yang mencuat adalah rekrutmen tenaga kesehatan untuk pelaksanaan PON XXI. Dinas Kesehatan Aceh saat ini tengah membuka rekrutmen besar-besaran untuk tenaga medis yang akan ditempatkan di berbagai lokasi selama acara berlangsung.

Namun, Tgk Mustafa menilai bahwa rekrutmen ini mungkin tidak sepenuhnya diperlukan jika dilihat dari ketersediaan tenaga medis lokal yang sudah ada.

“Aceh sebenarnya sudah memiliki struktur kesehatan yang cukup baik, mulai dari tingkat desa hingga provinsi. Kita bisa memaksimalkan tenaga yang sudah ada tanpa harus melakukan rekrutmen baru yang besar,” ujar Tgk Mustafa.

Tgk Mustafa juga menyoroti pentingnya memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan Aceh, terutama melalui pengembangan aplikasi Android yang berisi informasi lengkap tentang Aceh, mulai dari budaya, pariwisata, hingga nilai-nilai Islam yang dianut masyarakatnya. Aplikasi ini dapat berfungsi sebagai alat edukasi dan promosi yang efektif, terutama dalam mengatasi stereotip negatif tentang Islam yang sering terjadi di berbagai belahan dunia. “Dengan aplikasi ini, kita dapat memberikan informasi yang akurat dan positif tentang Aceh, sehingga dapat menarik minat wisatawan domestik dan internasional untuk berkunjung,” tambahnya.

Dalam konteks melawan Islamofobia, Tgk Mustafa menekankan perlunya edukasi dan dialog terbuka antaragama. Dia percaya bahwa dengan mengadakan seminar, workshop, dan dialog terbuka, masyarakat dapat lebih memahami nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Kampanye media sosial yang mengedukasi tentang toleransi dan pluralisme juga perlu digalakkan untuk mengubah persepsi negatif tentang Islam dan Aceh. “Ini adalah kesempatan kita untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam yang kita anut di Aceh adalah Islam yang damai dan toleran,” kata Tgk Mustafa.

Promosi kebudayaan Aceh juga menjadi perhatian utama Tgk Mustafa. Menurutnya, kebudayaan Aceh yang kaya dan unik memiliki potensi besar untuk dikenal secara luas. Melalui festival budaya, workshop tari Saman, kuliner Aceh, serta kerajinan tangan, keunikan budaya Aceh dapat dipromosikan ke kancah nasional maupun internasional. “Kita harus bangga dengan budaya kita dan berusaha untuk memperkenalkannya kepada dunia,” ujarnya.

Dalam bidang pariwisata, Tgk Mustafa menegaskan visi Aceh untuk menjadi destinasi wisata unggulan yang berfokus pada pariwisata Islami. Dengan meningkatkan infrastruktur pariwisata dan memperluas promosi melalui media digital dan kerjasama internasional, Aceh dapat menjadi tujuan wisata yang menarik seperti Bali atau Dubai. “Kita harus memastikan bahwa setiap aspek wisata yang kita tawarkan sejalan dengan nilai-nilai Islam, sehingga dapat memberikan pengalaman berwisata yang unik dan bermakna bagi wisatawan,” tambahnya.

Pentingnya peran pemandu wisata dalam memperkenalkan Aceh juga disoroti oleh Tgk Mustafa. Menurutnya, pemandu wisata harus terlatih dan memahami nilai-nilai budaya serta agama agar dapat memberikan pengalaman berwisata yang menyeluruh dan berkesan. Kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta berbagai pihak terkait dapat memastikan sinergi dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan Islami.

Sebagai penutup, Tgk Mustafa mengingatkan pentingnya semangat dan kerjasama dalam memanfaatkan kesempatan ini untuk mensyiarkan Islam dan memperkenalkan Aceh kepada dunia. “PON XXI adalah momentum yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Aceh adalah tempat yang indah dengan masyarakat yang ramah dan toleran. Mari kita bersama-sama menjadikan PON XXI sebagai ajang untuk membangun citra positif Aceh dan Islam di kancah internasional,” tutup Tgk Mustafa.

Dengan demikian, PON XXI diharapkan tidak hanya menjadi ajang olahraga semata, tetapi juga langkah strategis dalam mempromosikan Aceh dan Islam kepada dunia.(ra)

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Dilema Dakwah dan Tawaran Solusinya

16 August 2024 - 06:24 WIB

Antara Haji Mabrur dan Haji Mardud

2 August 2024 - 07:53 WIB

Tata Cara Wudhu Sesuai Sunnah

24 July 2024 - 14:47 WIB

Niat Puasa Tasua dan Asyura, Saum yang Paling Utama setelah Ramadhan

15 July 2024 - 15:36 WIB

Madi, Salah Marah Mak Usuh Tukang Parkir, Akhirnya Diserang Balik

8 July 2024 - 10:24 WIB

Pj Bupati Iswanto Tinjau Progres Pembangunan Jalan Menuju Venue PON Paralayang

16 June 2024 - 03:01 WIB

Trending di KHAZANAH