class="post-template-default single single-post postid-136394 single-format-standard wp-custom-logo" >

Menu

Mode Gelap
Hasil PSU di Sabang Pasangan Zulkifli H Adam – Suradji Junus Menang Telak Polda Aceh Siap Amankan dan Layani Masyarakat di Lokasi Wisata dan Pelabuhan Ulee Lheue Dibandingkan Tahun Sebelumnya, Angka Kecelakaan Hari Kedelapan Ops Ketupat Seulawah 2025 Menurun Siapa Sih Sumber Daya Manusia Kota Santri Bireuen? Masjid Islamic Center Lhokseumawe Padat Saat Solat Idul Fitri 1446 H

OPINI · 20 Mar 2025 00:19 WIB ·

Menerawang Keberadaan Seni dan Budaya di Tengah Kehadiran AI


 Ichsan MSn, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh Perbesar

Ichsan MSn, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh

Oleh Ichsan (Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh)

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI) semakin mempengaruhi berbagai sektor kehidupan manusia, tidak terkecuali dunia seni dan budaya. Kecerdasan buatan, yang dulunya hanya dipandang sebagai alat bantu dalam dunia industri atau bisnis, kini semakin merambah ke ranah yang lebih kreatif, seperti seni visual, musik, sastra, dan teater. Seiring dengan kemajuan teknologi ini, banyak yang mulai bertanya, apakah kehadiran AI justru mengancam eksistensi seni dan budaya yang selama ini dibangun oleh manusia? Ataukah, sebaliknya, AI membuka pintu-pintu baru untuk menciptakan bentuk seni dan budaya yang lebih inovatif?

Perlu dipahami, seni dan budaya adalah bagian integral dari kehidupan manusia yang telah ada sejak zaman purba. Selain berfungsi sebagai ekspresi diri, seni dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, dan identitas suatu bangsa, sementara budaya mencerminkan kebiasaan, nilai, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perkembangan zaman yang dipenuhi dengan teknologi semakin mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan seni dan budaya. Kehadiran AI sebagai bagian dari perkembangan teknologi memunculkan pertanyaan penting, apakah kecerdasan buatan akan menggerus esensi seni dan budaya, atau justru membuka dimensi baru dalam kreativitas manusia.

Pada satu sisi, banyak yang melihat AI sebagai ancaman terhadap nilai-nilai otentik dalam seni. Dalam pandangan ini, karya seni yang diciptakan oleh mesin akan kehilangan aspek emosional yang mendalam, yang biasanya hadir dalam karya seni yang diciptakan oleh tangan manusia. Contohnya, banyak orang berpendapat bahwa musik atau lukisan yang dihasilkan oleh algoritma tidak akan pernah mampu meniru kedalaman dan emosi yang terkandung dalam karya seniman manusia. Dalam hal ini, AI dipandang sebagai alat yang dapat menggantikan seniman, mengurangi peran manusia dalam menciptakan karya-karya seni yang memiliki makna personal dan sosial.

Disisi yang lain, ada pula pandangan yang lebih optimis terhadap peran AI dalam dunia seni dan budaya. Bagi kelompok ini, AI tidak hanya dipandang sebagai pengganti seniman, melainkan sebagai alat yang dapat memperluas batasan kreativitas manusia. Dengan kemampuan analitis yang dimiliki, AI dapat membantu seniman dalam menganalisis tren seni, memahami pola-pola estetika, bahkan menciptakan karya seni yang sebelumnya tidak terbayangkan. Misalnya, dalam dunia musik, AI dapat digunakan untuk menciptakan komposisi berdasarkan berbagai data dan genre, sementara dalam dunia seni visual, algoritma AI mampu menghasilkan gambar yang memadukan berbagai teknik artistik yang berbeda.

Dalam menghadapi tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh AI, penting bagi kita untuk mencari keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai yang ada dalam seni dan budaya. Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, kita dapat melihatnya sebagai mitra dalam proses kreatif. Oleh karena itu, beberapa langkah strategis dapat diambil untuk memastikan bahwa AI mendukung, bukan mengurangi, nilai-nilai seni dan budaya.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memberikan pelatihan kepada seniman dan budayawan agar mereka dapat memanfaatkan teknologi AI dalam karya mereka. Job desk ini tentu dapat di ambil oleh pemerintah ataupun institusi lembaga Pendidikan. Dengan memahami cara kerja algoritma dan kemampuan AI, seniman dapat lebih kreatif dalam mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam seni. Misalnya, seorang seniman lukis dapat menggunakan teknologi AI untuk menciptakan karya seni yang dinamis, yang bergerak atau berubah seiring waktu. Demikian pula, musisi dapat memanfaatkan AI untuk menciptakan komposisi yang unik, berdasarkan analisis data yang lebih mendalam tentang genre musik yang ada.

Salah satu fungsi aplikasi AI yang sangat berguna dalam dunia budaya adalah untuk pelestarian dan dokumentasi warisan budaya. Sebagai contoh, AI dapat digunakan untuk menganalisis dan memulihkan artefak-artefak budaya yang rusak, seperti lukisan atau patung kuno. Selain itu, AI juga dapat digunakan untuk menganalisis teks-teks kuno yang hilang atau sulit dibaca, memberikan wawasan baru tentang sejarah dan tradisi suatu bangsa. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat pelestarian yang memungkinkan generasi mendatang untuk tetap mengakses dan memahami warisan budaya yang ada.

Kolaborasi antara seniman, budayawan, dan pengembang teknologi harus didorong agar tercipta bentuk-bentuk seni baru yang inovatif. Di dunia teater, misalnya, AI dapat digunakan untuk menciptakan visual yang menakjubkan atau bahkan membangun narasi interaktif yang melibatkan penonton dalam cerita. Dalam film, AI dapat digunakan untuk menyusun skenario berdasarkan analisis data audiens, menciptakan pengalaman yang lebih personal dan relevan bagi penonton. Kolaborasi ini dapat memperkaya pengalaman budaya kita dan menciptakan karya seni yang lebih beragam dan menarik.

Meskipun teknologi dapat memperkaya seni dan budaya, kita juga harus tetap mempertahankan identitas budaya kita. Seni yang dihasilkan dengan bantuan AI seharusnya tidak menghilangkan elemen-elemen yang mendasar dalam budaya suatu bangsa. Misalnya, dalam musik tradisional, AI dapat digunakan untuk mengolah suara-suara tradisional dengan teknologi modern tanpa mengurangi nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, teknologi seharusnya berfungsi untuk memperkuat, bukan menggantikan, tradisi budaya yang ada.

Begitupula dengan ISBI Aceh, AI seyogyanya dapat menjadi bagian pendidikan yang diajarkan di ruang ruang kelas. Suka tidak suka, ini adalah keniscayaan. Saat ini, AI sendiri telah memasuki dunia seni dan budaya dengan cara yang sangat nyata. Berbagai aplikasi berbasis AI, seperti DeepArt atau DALL-E, memungkinkan mesin untuk menciptakan karya seni visual berdasarkan perintah manusia.

Meski begitu, kehadiran AI masih menuai kontroversi, terutama mengenai apakah karya seni yang dihasilkan oleh mesin bisa menggantikan karya seniman manusia yang lebih berakar pada pengalaman dan perasaan.

Di masa depan, AI diprediksi akan semakin terintegrasi dengan dunia seni dan budaya. Seniman dan budayawan kemungkinan akan semakin bergantung pada teknologi untuk menciptakan karya-karya seni yang lebih kompleks dan interaktif. Kemampuan AI untuk menganalisis data dan tren budaya akan memungkinkan terciptanya karya yang lebih relevan dan sesuai dengan selera masyarakat, sementara teknologi akan berfungsi sebagai mitra dalam proses kreatif, bukan sebagai pengganti.

Berdasarkan beberapa pandangan ini, secara hati kita menyadari bahwa AI sebenarnya bukanlah ancaman bagi seni dan budaya, melainkan sebuah alat yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya proses kreatif dan memperluas batasan seni. Dengan kolaborasi yang baik antara seniman, budayawan, dan pengembang teknologi, seni dan budaya dapat berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Pendidikan, pelatihan, dan pemahaman yang lebih baik mengenai peran AI dalam dunia seni dan budaya akan menjadi kunci agar keduanya tetap relevan dan berkembang di masa depan.

Dengan demikian, seni dan budaya tidak hanya akan bertahan di tengah revolusi digital, tetapi juga akan tumbuh menjadi lebih dinamis, inovatif, dan relevan. Di masa depan, kita akan melihat bagaimana AI dan manusia berkolaborasi untuk menciptakan bentuk-bentuk seni baru yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan makna dan relevansi budaya. Keseimbangan antara tradisi dan teknologi akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa seni dan budaya tetap memainkan peran penting dalam kehidupan manusia.(ra)

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Perempuan Panutan dalam Islam, Siapa?

17 March 2025 - 15:36 WIB

Semangat Ramadan: Cerminan Semangat Mengembangkan Perekonomian di Aceh

5 March 2025 - 09:43 WIB

Perempuan Sekolah, Untuk Apa??

28 February 2025 - 06:45 WIB

Sholat dalam Perspektif Filosofis dan Teologis: Kewajiban atau Kebutuhan?

27 February 2025 - 15:27 WIB

Seni sebagai Ilmu Pengetahuan (Mengapa Perlu Kuliah Seni?)

17 February 2025 - 13:26 WIB

Seni untuk Hidup atau Hidup untuk Seni

10 February 2025 - 21:57 WIB

Trending di OPINI