REDELONG (RA) – Petani di Bener Meriah kembali mengeluh akibat tingginya suku bunga penyimpanan kopi di resi gudang, Bener Meriah, yang mencapai 13,5 persen.
Kasman Dedi SP, warga Pondok Baru, Kecamatan Bandar menyampaikan, jika bunga yang ditetapkan mencapai 13,5 persen sama saja Bank Aceh Syariah (BAS) berkedok rentenir yang menindas masyarakat petani kopi.
Menurutnya, jika bunga yang ditetapkan terlalu tinggi petani sama saja tidak mendapatkan manfaat dengan hadirnya resi gudang. “Bank Aceh sebagai bank daerah seharusnya hadir untuk membantu masyarkat,” ungkapnya.
Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah dan pemerintah provinsi Aceh segera mengambil langkah kongkrit terkait suku bunga yang terlalu tinggi. “Jika Bank Aceh tidak dapat menurunkan bunga, pemerintah daerah lebih baik mencabut saham,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah saat ini terkesan diam padahal petani saat ini akan memasuki panen raya. “Jika bukan sekarang saatnya pemerintah berbuat kapan lagi apa tunggu masa panen selesai baru bunga tersebut turun,” tegasnya.
Ketua Pengola Resi Gudang, Azwin ABL kepada Rakyat Aceh, Selasa (1/9) membenarkan bunga yang ditetapkan oleh pihak BAS masih sangat tinggi dan memberatkan petani kopi.
Ia juga berharap, pemerintah dapat mengsubsidi agar petani dapat terbantu. “Saat ini petani menghadapi masa panen kopi yang diperkirakan dimulai pada pertengahan bulan September hingga bulan Oktober 2020 nanti,” katanya.
Pihaknya juga mengaku sedikit kecewa dengan bunga yang terlalu tinggi saat ini dan ia mengaku, dalam setiap rapat selalu menyampaikan agar suku bunga tersebut dapat disubsisdi oleh pemerintah baik daerah dan provinsi.
Menurutnya, BAS saat ini juga sedang mengajukan subsidi ke Bank Indonesia dan masih dalam proses. “Bunga terlalu tinggi tentu akan membebankan petani sehingga kita berharap subsidi terhadap bunga ini bisa segera dilakukan,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Pengelola Resi Gudang, Fardian menambahkan, kopi yang disimpan di resi gudang saat ini baru sebanyak 34 ton dan harga yang dibeli oleh resi gudang saat ini juga mengacu pada situasi pasar. “Untuk kopi siap ekspor resi gudang membeli dengan harga Rp48.000-Rp50.000 dari kelompok tani,” ungkapnya.
Untuk itu, ia berharap petani di Kabupaten Bener Meriah yang ingin menyimpan kopi di resi gudang dapat menyiapkan kelompok tani dan mendaftarkan ke resi gudang. “Saat ini baru ada 7 kelompok yang terdaftar dan baru 3 kelompok yang melakukan penyimpanan,” tegasnya.
Selain suku bunga katanya, petani juga harus membayar asuransi komonditi dan asusransi pembiayaan uang. “Seharunya untuk uang tidak perlu lagi di asuransikan sebab tidak memungkinkan untuk rusak,” katanya.
Sahru, Sekretaris Resi Gudang menambahkan, suku bunga di BRI jauh lebih rendah yakni 6 persen dan mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan, namun di Bener Meriah saat ini hanya bekerjasama dengan BAS yang berbasis syariah sehingga bunganya mencapai 13,5 persen. (uri/bai)