class="post-template-default single single-post postid-9858 single-format-standard wp-custom-logo" >

Menu

Mode Gelap
BKN Pangkas Anggaran BBM Hingga Daya Listrik Penembakan Massal di Sekolah Orebro Swedia Tewaskan 10 Orang 13 Toko dan 11 Unit Rumah di Bandar Baru Terbakar ISBI Aceh dan Pemkab Aceh Timur Sepakat Kolaborasi Pendidikan Seni Budaya Bersama MK Tolak Gugatan Pilkada Lhokseumawe, Saatnya Bersatu Untuk Kota Lhokseumawe

UTAMA · 1 Nov 2017 08:11 WIB ·

Gayo Merdeka Tolak Hymne Aceh


 PROTES: Mahasiswa dari Aliansi Gayo Merdeka menari Tari guel dalam aksi di depan gedung DPRA Banda Aceh, Selasa (31/10). Aksi tersebut mereka lakukan sebagai bentuk penolakan terhadap DPRA yang menyelegarakan sayembara lagu khas bahasa Aceh. 
HENDRI/RAKYAT ACEH Perbesar

PROTES: Mahasiswa dari Aliansi Gayo Merdeka menari Tari guel dalam aksi di depan gedung DPRA Banda Aceh, Selasa (31/10). Aksi tersebut mereka lakukan sebagai bentuk penolakan terhadap DPRA yang menyelegarakan sayembara lagu khas bahasa Aceh. HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Gayo Merdeka, menolak Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) gelar seyembara hymne Aceh. Penolakkan dilakukan lewat aksi unjuk rasa di depan gedung dewan, Selasa (31/10).

Para mahasiswa menilai sayembara tersebut telah merusak kebhinekaan di Aceh. Pasalnya, hymne diharus berbahasa Aceh, padahal di Aceh banyak bahasa daerah.

“Kami Gayo Merdeka meminta pemerintah Aceh khususnya anggota DPRA, untuk mengevaluasi kembali syarat sayembara hymne Aceh yang mengharuskan berbahasa Aceh. Kami juga memahami ini wujud dari hasil MoU Helsinki yang tertera dalam UUPA dalam pasal 248 ayat 2 dan 3,” kata Koordinator Aksi, Jusuf usai unjuk rasa.

Ia mengatakan jika hymne tersebut tetap dilakukan, mereka sebagai masyarakat dari suku Gayo merasa didiskriminalisasi.

“Kalau tetap dilaksanakan kami akan menolaknya, berbagai cara kami tempuh, karena kami didiskriminalisasi dari Aceh dengan adanya sayembara itu,” sebutnya.

Jusuf mengancam bila tuntutan mereka tidak dipenuhi dan respon, maka mereka akan minta untuk pisah dari Aceh.

“Kalau permintaan kami tidak didengar, lebih baik kami pisah dari Aceh, karena buat apa kami yang memiliki suku dan bahasa kami tidak dianggap,”ujarnya.

Selain soal bahasa, sayembara hymne itu juga dinilai membuang anggaran untuk hal tidak penting.

“Lebih bagus uang untuk sayembara ini digunakan beli cendol. Masyarakat masih banyak menderita kok buang uang untuk kepentingan suatu kelompok,” ujarnya.

Sejumlah pimpinan DPRA menemui mahasiswa berunjuk rasa diantaranya Teuku Irwan Djohan, Abdullah Saleh dan Azhari Cage. Mereka meminta para mahasiswa untuk berdiskusi secara langsung dilain waktu untuk membahas masalah ini.

“Kita terbuka untuk diskusikan hymne ini, pada prinsipnya kita hargai apa yang dilakukan para mahasiswa. Namun kalau ada hal yang disampaikan kita akan diskusikan lebih lanjut, karena tidak mungkin selesai di sini terkait dengan persoalan ini,” kata Abdullah Saleh.(ibi)

Artikel ini telah dibaca 151 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Presiden Prabowo dan Menkes Budi Bahas Program Cek Kesehatan Gratis, Mulai Berjalan 10 Februari

5 February 2025 - 17:01 WIB

Akomodir Rapat Yayasan MIM Langsa yang Diduga Langgar Anggaran Dasar, Notaris di Aceh Besar Dilaporkan ke MPD

5 February 2025 - 07:11 WIB

Bertemu Mendagri, Pj Gubernur Aceh dan Ketua DPR Aceh Bahas Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Terpilih

4 February 2025 - 21:30 WIB

Jelang Ramadan, Presiden Prabowo Pastikan Stok Pangan Nasional Aman

4 February 2025 - 15:44 WIB

Terkait Kasus OI, Iwan Fals dan Istri Dicecar dengan 16 Pertanyaan

4 February 2025 - 15:01 WIB

Sidang Mesum Sesama Jenis Pasangan Gay Terancam 100 Kali Cambuk

4 February 2025 - 14:22 WIB

Trending di METROPOLIS