HARIANRAKYATACEH | BIREUEN- Kabupaten Bireuen bukan hanya kaya akan alam atau sejarah, tetapi juga manusia, sumber daya yang hidup, bernapas dan penuh potensi. Santri, guru (teungku) dan ulama di 191 yang terakreditasi adalah tiga pilar sumber daya manusia yang menjadi kekuatan utama kabupaten ini dalam perjalanan menuju Kota Santri.
Mereka bukan sekadar angka dalam statistik, tetapi agen perubahan yang siap membawa Bireuen ke tingkat berikutnya, jika digali dan diberdayakan dengan tepat.
*Santri: Generasi Penerus yang Dinamis
Santri dayah adalah nyawa dari Bireuen. Dengan jumlah diperkirakan mencapai 45.000 hingga 50.000 jiwa (berdasarkan proyeksi 2025), mereka adalah generasi muda yang penuh energi dan semangat.
Di dayah, santri tidak hanya belajar agama, menghafal Al-Qur’an, memahami fiqih atau mendalami tasawuf, tetapi juga menunjukkan ketahanan dan disiplin yang luar biasa. Banyak dari mereka tinggal jauh dari keluarga, belajar dalam kondisi sederhana dan tetap tekun mengejar ilmu.
Potensi santri Bireuen terletak pada jumlahnya yang besar dan semangat belajar yang tinggi. Mereka adalah calon hafidz, ulama, wirausahawan atau pemimpin masa depan. Dengan pelatihan yang tepat, seperti teknologi, kewirausahaan atau bahasa asing, santri ini bisa menjadi tenaga terampil yang membawa inovasi ke Bireuen.
Keberagaman latar belakang mereka, termasuk santri dari luar daerah, juga menambah kekayaan budaya dan jaringan yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh Kota Santri.
*Guru (Teungku): Penggerak Ilmu dan Akhlak.
Guru atau teungku adalah tulang punggung pendidikan Islam di Bireuen. Diperkirakan ada 5.000 teungku yang mengajar di dayah dan madrasah, dengan keahlian yang bervariasi dari spesialis kitab kuning hingga pengajar yang terlatih secara formal di madrasah negeri.
Di dayah besar, teungku sering kali memiliki pengalaman puluhan tahun dan koneksi ke pusat-pusat keilmuan Islam, bahkan hingga ke luar negeri seperti Mesir atau Arab Saudi. Di madrasah, guru dengan sertifikasi dari Kementerian Agama membawa pendekatan yang lebih terstruktur.
Potensi teungku terletak pada dedikasi dan pengaruh mereka. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter santri dan menjadi panutan di masyarakat. Jika diberi pelatihan modern seperti metode pengajaran digital atau manajemen pendidikan, mereka bisa menjadi katalis yang mempercepat transformasi pendidikan Islam di Bireuen. Jumlah mereka yang cukup banyak juga memungkinkan distribusi ilmu yang luas, asalkan kesejahteraan dan kompetensinya ditingkatkan.
*Ulama: Penjaga Tradisi dan Visioner.
Ulama adalah puncak piramida SDM di Bireuen. Mereka adalah tokoh yang dihormati, tidak hanya di dayah, tetapi juga di tengah masyarakat. Nama-nama seperti pendiri dayah bersejarah atau ulama kontemporer yang aktif berdakwah mulai dari Samalanga hingga Gandapura menunjukkan bahwa Bireuen memiliki warisan keulamaan yang kuat. Ulama ini sering menjadi penutur kebijaksanaan, mediator dalam konflik sosial dan penjaga syariat yang menjadi identitas Aceh.
Potensi ulama ada pada wibawa dan jaringan mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk memobilisasi masyarakat, mengarahkan opini publik, dan memberikan legitimasi moral pada visi Kota Santri. Dengan melibatkan mereka dalam perencanaan, seperti merumuskan kurikulum atau mempromosikan ekonomi pesantren, ulama bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, memastikan bahwa transformasi Bireuen tetap selaras dengan nilai-nilai Islam.
Ketiga kelompok ini adalah aset tak ternilai. Santri membawa energi dan jumlah, teungku membawa ilmu dan pengalaman, ulama membawa wibawa dan pengaruh. Bersama, mereka bisa menjadi motor penggerak Kota Santri.
Santri sebagai pelaku, teungku sebagai pendidik dan ulama sebagai pengarah. Namun, ada tantangan yang harus diatasi: santri perlu keterampilan modern agar relevan, teungku membutuhkan pelatihan dan kesejahteraan dan ulama harus dilibatkan secara aktif agar tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga aktor pembangunan.
Peta potensi SDM ini menunjukkan bahwa Bireuen tidak kekurangan manusia berkualitas. Dalam 5-10 tahun, santri bisa menjadi wirausahawan atau inovator berbasis syariah, teungku bisa menjadi pendidik berkelas dan ulama bisa menjadi duta Bireuen di panggung nasional atau internasional.
Yang dibutuhkan adalah investasi pelatihan, pendanaan dan koordinasi untuk mengubah potensi mentah ini menjadi kekuatan nyata. Santri, guru, dan ulama adalah harta terbesar Bireuen, dan dengan mereka, Kota Santri bukan lagi mimpi, tetapi kenyataan yang bisa kita bangun bersama. (akh)