class="post-template-default single single-post postid-137242 single-format-standard wp-custom-logo" >

Menu

Mode Gelap
Siapa Sih Sumber Daya Manusia Kota Santri Bireuen? Masjid Islamic Center Lhokseumawe Padat Saat Solat Idul Fitri 1446 H Puluhan Ribu Pasang Mata Saksikan Pawai Takbir Keliling di Lhokseumawe Viral! Jelang Lebaran, Keuchik Tanjong Raya Gadai Mobil Demi Warga Bahas Kerjasama, Tiga Pejabat Umuslim Berkunjung ke Konjen India

NANGGROE TIMUR · 1 Apr 2025 18:28 WIB ·

Siapa Sih Sumber Daya Manusia Kota Santri Bireuen?


 Penulis : Anwar SAg MAP (Kepala Dinas Pendidikan Dayah Bireuen) Perbesar

Penulis : Anwar SAg MAP (Kepala Dinas Pendidikan Dayah Bireuen)

HARIANRAKYATACEH | BIREUEN- Kabupaten Bireuen bukan hanya kaya akan alam atau sejarah, tetapi juga manusia, sumber daya yang hidup, bernapas dan penuh potensi. Santri, guru (teungku) dan ulama di 191 yang terakreditasi adalah tiga pilar sumber daya manusia yang menjadi kekuatan utama kabupaten ini dalam perjalanan menuju Kota Santri.

 

Mereka bukan sekadar angka dalam statistik, tetapi agen perubahan yang siap membawa Bireuen ke tingkat berikutnya, jika digali dan diberdayakan dengan tepat.

 

*Santri: Generasi Penerus yang Dinamis

Santri dayah adalah nyawa dari Bireuen. Dengan jumlah diperkirakan mencapai 45.000 hingga 50.000 jiwa (berdasarkan proyeksi 2025), mereka adalah generasi muda yang penuh energi dan semangat.

 

Di dayah, santri tidak hanya belajar agama, menghafal Al-Qur’an, memahami fiqih atau mendalami tasawuf, tetapi juga menunjukkan ketahanan dan disiplin yang luar biasa. Banyak dari mereka tinggal jauh dari keluarga, belajar dalam kondisi sederhana dan tetap tekun mengejar ilmu.

 

Potensi santri Bireuen terletak pada jumlahnya yang besar dan semangat belajar yang tinggi. Mereka adalah calon hafidz, ulama, wirausahawan atau pemimpin masa depan. Dengan pelatihan yang tepat, seperti teknologi, kewirausahaan atau bahasa asing, santri ini bisa menjadi tenaga terampil yang membawa inovasi ke Bireuen.

 

Keberagaman latar belakang mereka, termasuk santri dari luar daerah, juga menambah kekayaan budaya dan jaringan yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas pengaruh Kota Santri.

 

*Guru (Teungku): Penggerak Ilmu dan Akhlak.

Guru atau teungku adalah tulang punggung pendidikan Islam di Bireuen. Diperkirakan ada 5.000 teungku yang mengajar di dayah dan madrasah, dengan keahlian yang bervariasi dari spesialis kitab kuning hingga pengajar yang terlatih secara formal di madrasah negeri.

 

Di dayah besar, teungku sering kali memiliki pengalaman puluhan tahun dan koneksi ke pusat-pusat keilmuan Islam, bahkan hingga ke luar negeri seperti Mesir atau Arab Saudi. Di madrasah, guru dengan sertifikasi dari Kementerian Agama membawa pendekatan yang lebih terstruktur.

 

Potensi teungku terletak pada dedikasi dan pengaruh mereka. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter santri dan menjadi panutan di masyarakat. Jika diberi pelatihan modern seperti metode pengajaran digital atau manajemen pendidikan, mereka bisa menjadi katalis yang mempercepat transformasi pendidikan Islam di Bireuen. Jumlah mereka yang cukup banyak juga memungkinkan distribusi ilmu yang luas, asalkan kesejahteraan dan kompetensinya ditingkatkan.

 

*Ulama: Penjaga Tradisi dan Visioner.

Ulama adalah puncak piramida SDM di Bireuen. Mereka adalah tokoh yang dihormati, tidak hanya di dayah, tetapi juga di tengah masyarakat. Nama-nama seperti pendiri dayah bersejarah atau ulama kontemporer yang aktif berdakwah mulai dari Samalanga hingga Gandapura menunjukkan bahwa Bireuen memiliki warisan keulamaan yang kuat. Ulama ini sering menjadi penutur kebijaksanaan, mediator dalam konflik sosial dan penjaga syariat yang menjadi identitas Aceh.

 

Potensi ulama ada pada wibawa dan jaringan mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk memobilisasi masyarakat, mengarahkan opini publik, dan memberikan legitimasi moral pada visi Kota Santri. Dengan melibatkan mereka dalam perencanaan, seperti merumuskan kurikulum atau mempromosikan ekonomi pesantren, ulama bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, memastikan bahwa transformasi Bireuen tetap selaras dengan nilai-nilai Islam.

 

Ketiga kelompok ini adalah aset tak ternilai. Santri membawa energi dan jumlah, teungku membawa ilmu dan pengalaman, ulama membawa wibawa dan pengaruh. Bersama, mereka bisa menjadi motor penggerak Kota Santri.

 

Santri sebagai pelaku, teungku sebagai pendidik dan ulama sebagai pengarah. Namun, ada tantangan yang harus diatasi: santri perlu keterampilan modern agar relevan, teungku membutuhkan pelatihan dan kesejahteraan dan ulama harus dilibatkan secara aktif agar tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga aktor pembangunan.

 

Peta potensi SDM ini menunjukkan bahwa Bireuen tidak kekurangan manusia berkualitas. Dalam 5-10 tahun, santri bisa menjadi wirausahawan atau inovator berbasis syariah, teungku bisa menjadi pendidik berkelas dan ulama bisa menjadi duta Bireuen di panggung nasional atau internasional.

 

Yang dibutuhkan adalah investasi pelatihan, pendanaan dan koordinasi untuk mengubah potensi mentah ini menjadi kekuatan nyata. Santri, guru, dan ulama adalah harta terbesar Bireuen, dan dengan mereka, Kota Santri bukan lagi mimpi, tetapi kenyataan yang bisa kita bangun bersama. (akh)

Artikel ini telah dibaca 133 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Gubernur Aceh Silaturahmi ke Abu Paya Pasi dan Waled Lapang di Momen Idulfitri

3 April 2025 - 08:08 WIB

Gubernur dan Istri Bersilaturahmi di Kampung Halaman, Disambut Antusias Warga

3 April 2025 - 08:03 WIB

Mobil Wisatawan di Sabang Masuk Jurang

2 April 2025 - 20:34 WIB

Di Awal Idul Fitri, Haji Uma, Wagub Aceh dan PPAM Pulangkan Warga Aceh yang Alami Depresi di Malaysia

2 April 2025 - 18:45 WIB

Begini Respons Polda Aceh soal Pelemparan Bus di Indrapuri

2 April 2025 - 08:55 WIB

Polisi Pastikan Arus Lalu Lintas ke Tempat Wisata Aman dan Lancar

1 April 2025 - 21:04 WIB

Trending di UTAMA